Tak pernah hilang luka dihatinya.
Kultum
Tak pernah hilang luka dihatinya.
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ اعطني محبتك ومعرفتك
Robbi srohli sodri wayahsirli amri wahlul ukdatammilisani yafkohul kauli.
Bapak ibu jemaah musholla al huda yg saya hormati.
Puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah swt
Yang mana pada hari ini kita semua masih bisa menghadiri ibadah sholat isak dan tarawih dimushola kita tercinta ini dalam rangka beribadah kepada Alloh swt.
solawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar
Muhammad.......solallahu alaihi wassalam
Berserta keluarganya sahabatnya
Semoga pada hari kiamat nanti
Kita dan keluarga besar kita mendapatkan syafa'at dari beliau
Aamiin ya Robbal Aalamiin.
Hadirin jama'ah sholat isak dan tarawih mushola al- huda yang dirahmati alloh.
Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan
Kultum dengan judul :
Tak pernah hilang luka dihatinya.
Pada masa dahulu ada seorang anak laki-laki. Dia cerdas, berbakat, dan tampan. Sayang: nya, dia sangat egois dan mudah marah, tidak ada yang mau menjadi temannya. Sering dia marah marah dan mengumbar kata-kata yang menyakitkan kepada orang-orang di sekitarnya.
Orang tua anak itu sangat cemas dengan temperamen anaknya. Mereka berpikir apa yang harus mereka lakukan. Suatu hari ayahnya mendapat suatu ide. Dia memanggil anaknya dan memberi palu dan sekantong paku kepada anaknya. Sang ayah berkata, "Setiap kamu mau marah, ambil paku dan tancapkan ke pagar tua depan rumah kita sekeras mungkin."
Pagar kayu itu ternyata sangat keras. Palu yang digunakan cukup berat. Karena anak laki laki itu begitu beringas, pada hari pertama saja dia sudah menancapkan 37 paku.
Hari demi hari, minggu demi minggu, jumlah paku yang ditancapkan semakin lama semakin berkurang. Setelah beberapa waktu, anak itu mulai paham bahwa menahan amarah itu lebih mudah daripada menancapkan paku ke pagar.
Suatu hari anak itu tidak lagi memerlukan palu dan paku. Dia telah belajar menahan amarah dengan baik. Lalu dia datang ke ayahnya dan bercerita tentang keberhasilannya menahan amarah. "Sekarang setiap saat, jika mampu menahan amarah dalam sehari, cabut paku yang sudah tertancap di pagar."
Sekian waktu berlalu. Akhirnya sang anak bangga setelah semua paku tercabut hilang semuanya. Saat dia datang ke ayahnya dan menceritakan semuanya, dia menawarkan untuk merapikan dan merawat pagar. "Kamu sudah berhasil, Nak, tetapi coba perhatikan lubang bekas paku itu. Pagar itu tidak akan bisa menjadi seperti semula, sudah cacat."
"Hal yang sama terjadi saat kamu menyakiti orang dengan ucapanmu. Kata-kata me ninggalkan bekas luka di hati sama halnya lubang bekas paku di pagar. Ingat, kita harus mem perlakukan setiap orang dengan sayang dan hormat, sebab meskipun telah memohon maaf dan dimaafkan, luka di hati tidak akan pernah hilang."
Semoga kau sadar dengan perbuatanmu dan takkan mengulanginya lagi.
Sekian semoga bermanfaat ,mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan.
Saya akhiri bilahi taufik wal hidayah wassalamu 'alaikum warohmatulohi wabarokatuh.

Komentar
Posting Komentar