CERPEN BUAYA PART 1
SI BUAYA DARAT
"Pacar Lu namanya siapa Raf?"
Aku yang tengah meminum kopi menoleh ke arah Tomi, sohib sewaktu kecil.
"Bentar gue itung dulu... Si Nita... Si Yuni... Sama si....Rini." ujarku sambil mikir.
"Buset, banyak bener."
"He he, Iya dong," Aku nyengir ke arah Tomi.
"Terus dari mereka, mana yang mau Lu nikahin?"
Uhuk! Aku tersedak gorengan yang nyangkut di gigi.
"Kaga ada, he he he. Maen-maen doang,"
"Dasar buaya Lu," Tomi menepuk pundakku.
"Biarin wlee," balasku sambil menjulurkan lidah.
Tak berselang lama, seorang wanita cantik lewat saat aku dan Tomi sedang berbincang.
"Bentar, bentar Tom," ujarku menghentikan Tomi yang sedang bicara.
Aku segera merapihkan rambut menggunakan ludah, dan juga pakaian. Kemudian memasang ekspresi sok tampan.
Saat wanita itu melewatiku, aku tersenyum ke arahnya.
"Hai cantik, mau kemana manis?"
"Apaan sih Bang, genit banget deh!"
"Buset, abang cuma pengen kenalan doang kok neng,"
"Kenalan doang, di nikahin kaga!"
"Eh Busset!"
Aku tersentak mendengarnya. Wanita itu berjalan cepat menghindariku.
Kulihat Tomi tertawa terbahak-bahak.
***
Aku pulang setelah banyak mengobrol dengan Tomi.
Kulihat dirumah kedua orangtuaku sedang membicarakan hal serius.
"Nah itu anaknya pulang," Enyak tersenyum ke arahku.
Aku tertegun, kemudian berjalan cepat menghampiri mereka.
"Ada apa nih?" tanyaku Setiba di tempat.
"Sini Rafi, duduk dulu," ujar Babeh.
Entah mengapa perasaanku tak enak, melihat Enyak dan Babeh berpandangan sambil saling lempar senyum.
"Apaan sih Nyak, Beh, bikin Rafi penasaran aja,"
"Jadi gini Raf, Enyak sama Babeh Lu... Kita udah sepakat mau jodohin lu sama anaknya Mpok Leli."
Aku tersentak, Mpok Leli hanya punya satu anak bernama Astuti.
"Siapa Nyak, si Astuti?"
Enyak mengangguk.
"Astuti yang tomboi ntuh Nyak? Yang badannya kekar dan berotot?"
Lagi-lagi Enyak mengangguk membuatku frustrasi. Tak terbayang jika aku sampai menikahi Astuti. Buaya darat ini bisa jadi cicak penyet.
"Ogah Nyak, Rafi kaga mau." Aku menggeleng kuat.
"Pokoknya lu harus mau, kalo lu kaga mau, sawah sama kebon Babeh yang ada di sono, buat adek lu semua, si Jamal."
Mampus! Pilihan yang sulit.
***
Pernikahan pun terjadi, Enyak dan Babeh terlihat bahagia, saat aku dan Astuti resmi menikah.
Aku izin untuk keluar rumah, di luar aku termenung, memikirkan nasibku kedepannya.
Tak berselang lama...
PLENTANG!
Kepalaku terasa sakit, seseorang melempariku dengan bekas minuman kaleng.
"Aw! Siapa nih kurang aj4r!" Aku memegangi kepalaku, kemudian menoleh ke arah orang tersebut.
Mataku membola.
"Bang Rafi jahat!" teriak Yuni, pacarku nomor dua.
Aku berjalan ke arahnya, namun malah di hadang oleh Rini pacarku nomor tiga.
"Dasar Buaya!"
PLAK! Rini menamparku dengan keras.
Sial sekali nasibku hari ini.
Rini dan Yuni pergi meninggalkanku.
Saat ingin menyusuli mereka. Tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang...
Aku segera menoleh. Terlihat Anita sambil menggendong putrinya, menatapku dengan tatapan nanar.
"Nit... Maafin abang Nit," Aku berjalan menghampiri Anita, dia seorang Janda anak satu.
"Abang Jahat, katanya kalo panen abang mau nikahin Nita, tapi apa? Abang malah nikah sama Astuti."
"Nit, Maafin abang. Ini bukan kemauan abang Nit." sahutku memelas.
Aku menyentuh tangan Nita, dan Nita langsung menyentak tanganku dengar kasar.
"Nit abang bisa jelasin,"
Anita membuang pandangan ke arah lain, pipinya basah karena menangis.
"Jelasin apalagi bang? Semuanya udah jelas!" sahutnya, dia masih enggan menatapku.
"Nit dengerin abang... Abang... A-abang-"
Ekhm!
"Bang Rafi, ayo masuk bang!" Aku langsung menoleh ke sumber suara, ternyata ada Astuti di pintu. Dia menatap tajam ke arahku. Tatapannya yang tajam seperti hendak menelan mangsanya hidup-hidup, membuat nyaliku menciut.
"I-iye Tut." lirihku.
Aku berjalan perlahan meninggalkan Anita-ku yang semlohay.
Anita menatapku dengan tatapan terluka.
Maafin abang ya Nit.
***
Malam pun tiba...
Malam pertama yang tidak aku inginkan, sejak tadi aku duduk di teras, enggan rasanya masuk ke dalam kamar. Disana pasti Astuti telah menungguku.
Berbeda jika aku menikah dengan salah satu pacarku, mungkin sejak sore tadi aku sudah berada di dalam kamar, bermain kuda-kudaan.
Malam semakin larut, suasana diluar semakin dingin. Jadi kuputuskan untuk masuk ke dalam.
Baru membuka pintu kamar, jantungku langsung jumpalitan.
Astuti sedang duduk di atas ranjang, dia menggunakan baju laki-laki kebesaran berwarna hitam dengan celana pendek selutut. Rambutnya yang pendek membuatnya persis seperti laki-laki.
Bagaimana aku bisa bernafsu, melihatnya saja ular piton ku semakin mengkerut.
Astuti mentapku, dengan senyum yang tak ada manis-manisnya. Beda dengan senyum Anita, Yuni, dan Rini.
Aku langsung bergidik. Semoga malam ini tak menjadi malam terakhir.
"Abang..." panggilnya lirih, namun terdengar menyeramkan di telingaku.
Aku yang hendak keluar kembali jadi menoleh ke arahnya.
"Bang Rafi, sini bang. Duduk di sebelah Tuti." ucap Astuti menepuk-nepuk kasur di sebelahnya yang di taburi kelopak mawar.
Dengan kaki dan tubuh bergetar, aku berjalan ke arahnya.
SET!
Astuti malah menarikku dengan kasar hingga aku terjerembab di kasur. Dan dia langsung naik ke atasku.
"T-tut... Tut... Lu mau ngapain?"
"Loh... Ini kan malam pertama kita bang?!"
"I-iye sih Ta-tapi abang..."
"Kenapa bang?"
Krukuk krukuk brooot.
"Oh... Abang laper," gumam Tuti.
Aku bernapas lega, untung saja perutku berbunyi di waktu yang tepat.
"Iye Tut, abang makan dulu ya biar tenaganya nambah."
"Yaudah abang makan dulu gih, Tuti tunggu disini." jawabnya dengan mengedipkan sebelah mata.
Aku bergegas turun dari ranjang, dan berjalan cepat menuju pintu, namun naas lantai yang licin membuat kakiku terpeleset. Bokongku terhempas ke lantai.
GUBRAK!
"Akh... Aduh!"
Aku meringis memegangi pinggangku yang seakan patah.
"Abang gakpapa bang?" tanya Astuti ia terlihat khawatir.
"Ng-nggak Tut, abang gakpapa."
Aku segera bangun, dengan tertatih berjalan ke arah pintu.
KREK!
Seketika mataku membulat.
"Woi, Ngapain kalian disini?"
Aku terkejut melihat Enyak dan Babeh berdiri di depan pintu.
Komentar
Posting Komentar