Rabu Wekasan / Rabu Akhir di Bulan Shofar

 


Rabu Wekasan / Rabu Akhir di Bulan Shofar
====================================
Yang bertanya tentang rabu wekasan, ini sudah dijawab oleh habib abdullah, alhamdulillah, jawaban yg sangat baik........
bala bencana itu tidak ada, semua hanyalah pantulan dari hasil perbuatan kita sendiri...... jadi bala' = perbuatan buruk kita yg sdg dikembalikan kepada diri kita sendiri.......
karena kita tidak sadar diri, maka kita sebut itu sebagai bala'....... kalau kita sadar diri, maka kita mestinya bersyukur sdg diingatkanNYA.......
===================
RABU WEKASAN adalah istilah untuk hari rabu akhir bulan shofar. Bulan shofar tidak beda dengan bulan yang lainya. Bukan bulan bencana dan bukan bulan sial. Kita tidak boleh mempercayai adanya bulan sial. Bulan sial adalah bulan seorang hamba melakukan kemaksiatan.
Adapun berita tentang adanya ribuan bala bencana di hari itu bukanlah berita dari Nabi Muhammad SAW. Itu hanya ungkapan sebagian orang sholeh dan Bukan hadits nabi.
Yang mau mempercayai perkataan orang sholih
tidak salah dengan 2 syarat :
1. Jangan di sandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.
2. Perkataan tersebut tidak bertentangan dengan syariat nabi Muhammad SAW.
Tentang bala bencana bisa saja di ucapkan oleh seorang sholih dari ilham. Masalah ilham telah disepakati keberadaanya seperti disebutkan dalam Al-Qur’an. Bagi yang tidak mempercayai juga tidak ada masalah sebab kita tidak wajib percaya kepada orang yang mengaku mendapatkan ilham. Yang tidak diperkenakan adalah kurang ajar kepada orang sholeh. Artinya bagi yang tidak percaya ya silahkan asal tetap menjaga tatakrama kepada orang sholeh tersebut.
Bagi yang tidak mempercayai, berprasangka baiklah kepada Allah dengan sungguh semoga di hari RABU WEKASAN Allah turunkan rahmat kepada kita serta tingkatkan ibadah dan jauhi maksiat agar Alloh senantiasa menjaga kita. Dan bagi yang mempercayai juga tidak perlu cemas dan berprasangka buruk pada Alloh sebab bencana apapun yang diturunkan hanya akan menimpa orang yang berprasangka buruk kepada Alloh dan yang dikehendaki oleh Alloh.
Adapun amalan yang seyogyanya dilakukan adalah tidak beda dengan amalan di hari-hari yang lainya. Perbanyaklah dzikir, sedekah dan ibadah-ibadah lainnya.
---------
TANYA BAH...
Sebenarnya soal kilafiah saja bah, tapi pertanyaan ini slalu menghantui aku bah.
Soal sholat rabu wekasan bah.
Mbah nawawi banten itu mensunahkan sholat itu bah...
Berarti beliau mempercayai bahwa akan ada bencana dihari rabu terakhir pada bulan syafar bah...
Padahal musibah itu kan bisa datang kapan saja bah..
Apalagi jika merujuk pada hadist bah,... "Hadist itu dhoif bah".....
Tetapi sehebat apapun kita dalam ilmu tafsir atau fiqh, bukan maqom kita untuk membid'ahkan mbah nawawi bah...
Tolong penjelasannya soal itu bah.... ?
=============================
waduh sampai dihantui pertanyaan segala...... heuheuheu.....
begini lho, tentang pemahaman atau pelajaran, dari para ulama terdahulu, tidak perlu kalian perdebatkan, ambil sisi positifnya saja......
Tentang "KESIALAN" atau "KEAPESAN"..... Saya akan terangkan lebih jauh lagi..... begini, dalam pemahaman berkaitan dengan "kesialan, ini ada beberapa derajad tingkatan, hendaknya kalian memahaminya dan mengerti esensinya.....
1. Tingkat pertama, yaitu adanya keyakinan tentang bulan apes/sial, hari sial, angka sial, tempat sial, dan berbagai kesialan kesialan lainnya..... Ini ambillah positifnya..... yaitu adanya keyakinan, ataupun penyebaran keyakinan seperti ini, bermaksud untuk memicu orang orang agar lebih meningkatkan lagi ibadahnya...... contoh: "bulan ini banyak sial, banyak bala, perbanyak sholat sunnat, perbanyak ibadah......
Ini bermaksud untuk menakut nakuti orang, agar berawal dari rasa takutnya akan datangnya nasib sial, maka orang orang kemudian memperbanyak ibadahnya...... Bagus bagus saja bukan???.....
2. Tingkat kedua, yaitu keyakinan bahwa semua apes, sial, bala dsb itu merupakan pantulan dari perbuatan manusia sendiri, jadi kalau hari ini banyak berbuat buruk, besok besok akan apes dan sial terus terusan, sebagai pantulan prilaku diri pribadi, tidak memandang adanya hari sial, bulan sial, waktu sial, tempat sial, tapi memandang perbuatan diri pribadi sebagai sumber kesialan...... Keyakinan seperti ini pun bagus, untuk menimbulkan sikap mawas diri, hati hati, agar jangan kena apes/sial dikemudian hari, maka hari hari ini kita mesti menghindari keburukan keburukan.....
3. Tingkat ketiga, yaitu keyakinan yang memandang bahwa tidak ada yang disebut apes/sial atau bala, kesemua peristiwa bahkan yang kita tidak sukai, atau umumnya disebut apes/sial itu hanyalah bentuk kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita, agar kembali ke jalan yang lurus..... Jadi semua peristiwa itu telah baik, tanpa ada sial/apes, hanya persepsi kita saja yang memandang ini sial itu sial......
Pada tingkat mana keyakinanmu berkaitan dengan "APES/SIAL", itu adalah urusanmu sendiri sendiri...... Namun hendaknya jangan pula menyalahkan keyakinan orang lain, karena bisa jadi ada kebaikan atau manfaat yang diterima orang orang.......
fahami kalimat dibawah ini:
"Kurang duit itu nasib apes, karena tidak bisa bersedekah harta, tetapi kurang duit itu berkah, karena tidak jadi sasaran perampokan"......
Jadi kurang duit itu sebenarnya apes ataukah berkah??..... Semua tergantung tingkat keyakinanmu sendiri......
#semoga_tidak_dihantui_lagi.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 GOLONGAN YANG DIRINDUKAN SYURGA

Tiga janji kita kepada Allah ketika shalat

BIOGRAFI RINGKAS GUS BAHRU LIRBOYO