DUNIAMU JANGAN MENGHALANGI KETAATAN.

 

KHUTBAH JUM'AT:
DUNIAMU JANGAN MENGHALANGI KETAATAN.
الخُطْبَةُ الأُوْلَى
الْحَمْدُ لِلّٰهِ, وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ, ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ, عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ, وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ, إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ, وَالسَّمْعِ والطَّاعَةِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى, أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا, نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا, وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ. صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ.
مَعَاشِرَ المؤْمِنينَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ
Dari mimbar yang mulia ini, kami menyampaikan wasiat untuk saya pribadi dan para hadirin sekalian, marilah kita senantiasa untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya, serta kita sempurnakan hidup ini dengan selalu bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Insya Allah, kita semua berada dalam keselamatan dan kebahagiaan fid diini wad dunya wal akhirah. Aamiin.
مَعَاشِرَ المؤْمِنينَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ
Kehidupan kita di dunia ini, laksana menyusuri sebuah jalan panjang, untuk mencapai sebuah tujuan, dengan membawa amanah besar, yang tidak boleh kita lupakan sepanjang hidup kita, yaitu menyembah Allah subhanahu wa ta'ala.
Seringkali gemerlap duniawi, berupa harta benda, ilmu, kedudukan, nasab, jabatan dan status sosial, sangat dahsyat mempengaruhi kehidupan manusia. Bahkan, banyak diantara kita, yang mengukur kemuliaannya dengan itu semua.
Memang kita hidup di dunia, harus mengisi dunia dengan bekal dunia. Tetapi, jalan duniawi yang kita kejar dan miliki, seharusnya menjadi sarana untuk memenuhi amanah Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surat Al-Qashash ayat 77 :
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ الۡاٰخِرَةَ‌ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
مَعَاشِرَ المؤْمِنينَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ
Firman Allah subhanahu wa ta'ala tersebut, mengandung empat pesan penting untuk kita semua, yaitu : 1. Perintah untuk mengutamakan kepentingan akhirat; 2. Anjuran untuk tidak meninggalkan urusan dunia; 3. Perintah berbuat ihsan (kebaikan) dan 4. Larangan berbuat kerusakan
Dari sini, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh kepada kita, sebagai seorang mukmin untuk bersungguh-sungguh, meraih kenikmatan di kampung akhirat. Namun, jangan sampai melupakan bagian dari kenikmatan dunia. Yang sangat ditekankan oleh Allah subhanahu wa ta'ala adalah urusan akhirat. Sampai-sampai Allah menggunakan fi’il amar (kata perintah) : وَٱبْتَغِ wabtaghi artinya Raihlah ! Carilah !.
Harta benda, ilmu, nasab, kedudukan, jabatan dan status sosial yg dimiliki dalam memenuhi kebutuhan duniawi, Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan tentang kehidupan akhirat jangan dilupakan.
Ada maqolah yang masyhur dalam Kitab Ihya'Ulumiddin karya Imam Al-Ghozali rahimahullah (wafat 1111 M di Thus Iran) :
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ
"Dunia ini adalah kebun akhirat, tempat kamu berpayah², mencangkuli tanah, membajak tanah, mengolah tanah, untuk kau tanami berbagai bentuk amal perbuatan sholeh."
مَعَاشِرَ المؤْمِنينَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ
Sebuah keberuntungan yang besar, di kala seorang muslim diberi rezki yang luas maupun pas-pasan, semuanya di syukuri dan dipergunakan dalam rangka, menguatkan diri dalam ibadah dan ketaatan, lalu ia ridho, dengan pembagian rezeki yang didapatkan, setelah ia berusaha meraih dengan jalan yang halal.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezki yang pas-pasan, dan diberi qona’ah (rasa puas) terhadap rezki yang Allah berikan kepadanya". (HR. Imam Muslim rahimahullah wafat 875 M di Naisabur Iran).
Apa yang dimaksud dengan rejeki yang pas-pasan ?
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah (wafat 1277 M di Nawa Syuriah) menjelaskan hadits tersebut dalam kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim :
الْكَفَافُ الْكِفَايَةُ بِلَا زِيَادَةٍ وَلَا نَقْصٍ, وَفِيهِ فَضِيلَةُ هَذِهِ الْأَوْصَافِ
“Pas-pasan : cukup, tanpa ada kelebihan dan kekurangan. Di dalam hadits itu terdapat fadhilah (keutamaan) sifat-sifat (mulia) ini.”
Harta yang pas-pasan, adalah harta yang tidak berlebihan, sampai menyebabkan seorang hamba terlalaikan dari ketaatan dan ibadah, dan juga harta itu tidak kurang, jangan sampai menyebabkan seorang hamba menjadi hina dan rendah di hadapan manusia. Akhirnya, ia pun meminta-minta dan menengadahkan tangannya di depan manusia.
مَعَاشِرَ المؤْمِنينَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ
Yang terpenting, pesan dari Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari Al-Maliki rahimahullah (wafat 1309 M, Kairo, Mesir) adalah :
ليس كل طالب للدنيا مذموما، بل المذموم من طلبها لدنياه لا لآخرته.
Laisa kullu thoolibin lid dunya madzmuumaa, balil madzmuumu man tholabahaa li dunyaahu, laa li akhirotihi.
"Tidak semua orang yg mencari dunia tercela, tapi yg tercela adalah orang yg mencari dunia hanya untuk dunia saja, bukan untuk akhirat."
Hal ini, juga mengingatkan kita pada perkataan seorang sahabat nabi yang mulia, Abdullah Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu (wafat 650 M di Jannatul Baqi' Madinah), dalam sebuah hadis shahih mauquf. Salah satu tanda zaman fitnah adalah :
الْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الآخِرَةِ
*Mengejar dunia dgn amalan akhirat"
Banyaknya orang mengejar dunia dengan amal akhirat, berbarengan dengan munculnya orang dengan karakter :
تُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّيْنِ.
Siapakah itu ? Mereka yg bertekun-tekun mendalami agama, bukan untuk agama. Mereka bersungguh-sungguh mempelajari agama untuk meraih dunia. Orang-orang yg mengajar agama untuk meraih dunia, tanpa merasa khawatir sedikit pun amalannya terhapus di Yaumil Qiyamah.
مَعَاشِرَ المؤْمِنينَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ
Itula tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia ridho. Namun, jika kenikmatan dunia tsb tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar, “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rizki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yg selalu berharap dunia dgn amalan sholehnya.
Cinta dunia tidak terkait langsung dgn mencari, memiliki, dan menggunakannya, tapi terkait dgn cara menyimpannya. Mencari, memiliki, dan menggunakan dunia tidak dilarang, bahkan dianjurkan. Asalkan dunia yg dicari dan dimiliki tidak dipakai untuk merusak, tapi memperbaiki (kemaslahatan).
Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah (wafat 778 M, Basrah, Irak) berkata :
لَيْسَ مِنْ حُبِّكَ الدُّنْيَا أَنْ تَطْلُبَ مِنْهَا مَا يُصْلِحُكَ.
"Bukan termasuk cinta dunia jika pekerjaanmu mencari (harta) itu untuk memperbaiki (keadaanmu) untuk akhiratmu ".
Dan yg jelas, barometer kemuliaan seorang hamba disisi Allah SWT bukan harta benda, ilmu, nasab dan jabatan, tetapi seberapa besar nilai ketaqwaan yg mewarnai kehidupan kita sehari².
Semoga bermanfaat !! Semoga kita selalu diberi kekuatan, kesehatan dan kesempatan agar bisa menjalani ketaatan kepada-Nya, semoga kita, keluarga kita, istri dan anak-anak serta keturunan kita diberi keberlimpahan dunia yg berkah yang dipergunakan untuk sarana beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Dan semoga seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan akhir nafas kita dalam kondisi husnul khatimah. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ والسُّنَّةِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِمَا, مِنْ الآيَاتِ وَالِحكْمَةِ. قَدْ قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَلِيَّ العَظِيمَ, لِي وَلَكُمْ, وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاستَغْفِرُوهُ, وَتُوْبُوا إليهِ, إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
الخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى بَشَّرَالْمُتَّقِيْنَ, بِأَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَى, فِى الدُّنْيَا وَالْاَخِرَةِ. أَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَافِ الْمَخْلُوْقَاتِ، وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ, اَهْلِ التَّقْوَى وَالْمَغْفِرَةِ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ ! اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ, وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّاوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ : اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ, يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ, يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا, صَلُّوْا عَلَيْهِ, وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ, وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ, وَارْضَ عَنْهُمْ, بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا, وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لَنَا مِنَ البَرَكَةِ وَالتَّوْفِيْقِ, أَوْفَرَ الْحَظِّ, وَأَتَمَّ النَّصِيْبِ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَعْمَالِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَمْوَالِنَا وَفِيْ أَوْقَاتِنَا، اللَّهُمَّ وَبَارِكْ لَنَا فِيْ صِحَتِنَا وَعَافِيَّتِنَا، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا. وَاعْفُ عَنَا, يَا عَافِياً عَن الْمُجْرِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً, وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً, وَقِنَا عَذَابَ النَّار
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ, وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى, عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ, يَذْكُرُكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 GOLONGAN YANG DIRINDUKAN SYURGA

Tiga janji kita kepada Allah ketika shalat

BIOGRAFI RINGKAS GUS BAHRU LIRBOYO