empat perkara yag tidak merugikan
Khutbah Jumat: Empat Perkara yang Tidak Merugikan.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ اَلْوَاحِدُ الْقَهَّاُر. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلأَبْرَارِ. فَصَلَوَاتُ الِلّٰهِ وَسَلاَمُهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ. أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ العَظِيمْ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada jamaah sekalian dan diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, takwa dalam arti menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah, dan berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.,
Setiap manusia pasti menginginkan keberuntungan dalam hidup ini. Karenanya, manusia selalu berusaha untuk meraih keberuntungan itu. Yaitu, berupa keberuntungan materi, kepercayaan dari orang lain yang kemudian membawa keberuntungan, jabatan yang tinggi, popularitas yang tidak tertandingi, keturunan yang menyenangkan, dan sebagainya. Namun, tidak semua keinginan duniawi manusia bisa diraihnya. Ada banyak orang yang berambisi untuk mendapatkan banyak hal dari kenikmatan duniawi, tetapi ia tidak memperolehnya.
Bagi seorang Muslim, manakala keinginan duniawi nya tidak tercapai, dia tidak akan menganggap hidupnya menjadi sia-sia, apalagi sampai putus asa. Masih ada harapan yang lebih mulia untuk diraihnya, yakni keridhaan Allah dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Karenanya, bila kenikmatan duniawi itu tidak diraihnya, ia tidak merasa hal itu sebagai suatu kerugian besar karena yang rugi bukanlah orang yang tidak memperoleh kenikmatan duniawi, tetapi yang tidak beriman dengan mantap, tidak beramal saleh, dan tidak saling menasihati dalam ketakwaan, Allah SWT berfirman,
وَالْعَصْرِۙ . اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ. اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ .
"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (al-'Ashr: 1-3)
Oleh karena itu, ada satu Hadits Nabi Muhammad SAW yang memberikan resep kepada kita untuk merasa tidak rugi dalam menjalani kehidupan di dunia ini hanya karena tidak memperoleh kenikmatan duniawi. Rasulullah SAW bersabda:
أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيْكَ فَلَا عَلَيْكَ مَافَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: صِدْقُ الْحَدِيْثِ وَحِفْظُ الْأَمَانَةِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَعِفَّةُ مَطْعُمٍ
"Empat perkara, apabila keempatnya ada padamu, maka tidak merugikan engkau dari apa yang tidak engkau peroleh dari dunia, yaitu: benar dalam berbicara, menjaga amanat, akhlak yang baik, dan tidak serakah dalam makanan. "(HR Ahmad, Thabrani, Hakim, dan Baihaqi)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.,
Dari Hadits di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa terdapat empat resep dari Rasulullah SAW agar seandainya kita tidak memperoleh apa pun dari kenikmatan duniawi, kita tidak menganggapnya sebagai kerugian yang besar. Sebab, masih ada keberuntungan yang lebih besar lagi dan justru hal itu memberikan kenikmatan tersendiri dalam hidup ini.
Pertama adalah benar dalam berbicara. Hal ini karena bicara yang benar merupakan salah satu dari ciri orang yang beriman. Karena itu, bila seseorang benar dalam berbicara maka ia telah memenuhi salah satu syarat guna memperoleh jaminan surga. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara diantara rahangnya (mulutnya) dan diantara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga."(HR Bukhari)
Orang yang kaya, cantik atau ganteng, populer, tinggi kedudukannya, dianggap terhormat di dalam masyarakat jika sudah tidak benar dalam berbicara maka ia akan menjadi manusia yang sangat hina di hadapan Allah dan rendah kedudukannya di hadapan sesama manusia. Oleh karena itu, sebagai Muslim kita punya keharusan yang sangat untuk menjaga bahaya lidah.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (Qaaf: 18)
Resep kedua untuk tidak merasa menjadi orang yang rugi bila tidak memperoleh kenikmatan duniawi adalah selalu menjaga amanah. Kehidupan di dunia ini tak lepas dari amanah. Jasmani yang sehat, harta yang banyak, ilmu yang luas, kedudukan yang tinggi merupakan amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita. Belum lagi kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita dalam berbagai hal. Semua amanah itu harus dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, manakala seseorang tidak memiliki sifat amanah, keimanan dianggap tidak ada pada dirinya dan manakala ia selalu mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya ia dianggap tidak memiliki agama meskipun ia penganut suatu agama. Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak beriman orang yang tidak memegang amanat, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati." (HR Ahmad)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.,
Ketiga, yang merupakan resep untuk menjadi orang yang tidak merasa rugi adalah dengan memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik merupakan kekayaan yang paling mahal harganya bagi seorang Muslim. Karena itu, Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Itu pula sebabnya, manakala orang tua telah mendidik akhlak anaknya dengan baik, itu menjadi pemberian yang paling berharga ketimbang pemberian materi yang paling mahal sekalipun. Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pendidikan adab (akhlak) yang baik." (HR Tirmidzi)
Keempat, yang merupakan resep dari Rasulullah SAW. agar kita selalu merasa menjadi orang yang beruntung adalah tidak serakah. Hal ini karena tamak atau serakah merupakan salah satu sifat tercela. Meskipun seseorang telah memperoleh materi yang banyak, jika ia tidak bersyukur dan tidak ada puasnya maka ia menjadi orang yang terasa miskin. Keserakahan ternyata bukan hanya membuat seseorang tidak pandai bersyukur. Untuk memperoleh kenikmatan yang lebih banyak ia juga akan menjadikan seseorang berani menempuh berbagai cara yang tidak halal dan merampas hak-hak orang lain meskipun mereka yang dirampas hak-haknya itu tergolong miskin atau jauh lebih miskin darinya.
Rasa syukur kepada Allah SWT membuat seseorang memperoleh keberuntungan yang besar sebagaimana janji Allah untuk menambah nikmat-Nya kepada siapa saja yang bersyukur. Allah SWT berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
"Dan, (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (Ibraahiim: 7)
Akhirnya, semakin kita sadari bahwa keberuntungan dalam hidup di dunia tidak bisa semata-mata kita ukur dengan tinjauan materi. Karena itu, seandainya seseorang tidak memperoleh kenikmatan materi, ia masih tergolong orang yang beruntung manakala menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Demikian khotbah Jumat yang singkat ini, semoga bermanfaaf bagi kita bersama, amiin yaa rab bal 'aalamiin.
بَارَكَ اللّٰه لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ، وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ اِلَّاللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَ بَعْدَهُ. اَللّٰهُـمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ! اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعاَلَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِالِلّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسۡمِ ٱلِلّٰهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيْمِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُـمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.
اَللّٰهُـمَّ اِنَّانَسْأَلُكَ سَلَامَةًفِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةًفِى الْجَسَدِوَزِيَادَةًفِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةًفِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَقَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةًعِنْدَالْمَوْتِ وَمَغْفِرَةًبَعْدَالْمَوْتِ،اَللّٰهُـمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةًمِنَ النَّارِوَالْعَفْوَعِنْدَالْحِسَابِ.
أَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرْ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ, مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَآصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرِ.
عِبَادَالِلّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ الِلّٰهِ اَكْبَرْ.
Komentar
Posting Komentar