wayang jawa
”Ceritane wayang jawi
Ing projo ngalengko dirojo
Rahwono rojo arane
Gawe geger nyolong shinto
Anoman cancut tumandhang
Ngalengko wes dadi awuu
Kobong gedhe jeroning projo.”
Aku membuka mata setelah melantunkan paragraf awal lagu anoman obong, setelah ibu meminta. Aku dan Mbok jur sedang duduk menemani Ibu di taman belakang. Katanya, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah anoman obong. Ibu ingin berkisah tentang ini kepada kami.
“Ternyata suaramu apik, Nduk.”
Aku hanya tersenyum kecil, berdiri di belakang tubuh ibu sembari memijat bahunya, sementara Mbok Jur memijat kakinya.
“Dulu, Ibu dan ibumu sering mendengar kisah ini dari Pak Wir. Tetangga dekat rumah, saat kami masih anak-anak.” Aku dan Mbok Jur diam, mendengarkan cerita ibu dengan seksama. “Kita, sebagai wanita harus menjaga kesucian kita, sama seperti halnya Shinta yang tidak pernah tergoda akan Rahwana yang berkuasa. Padahal Rahwana melakukan segala upaya untuk merebut hatinya, dibawanya wanita itu ke Taman Argasoka yang telah disiapkannya di Negara Alengka.
Taman yang indah, ditumbuhi bermacam bunga yang bermekaran. Setiap hari Rahwana mencoba merayu dan menyuntuhnya, tapi apa? Shinta tak bergeming sedikit pun. Shinta masih menjaga kesucian dan kesetiaannya pada suaminya Ramawijaya, meski pun wanita itu tak pernah tahu kapan suaminya akan datang menyelamatkannya.”
Aku dan Mbok Jur mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti.
“Bagaimana akhir dari kisah mereka, Bu?” tanyaku penasaran. “Apa Rama menyelamatkan Shinta?”
“Saat Rama sedang dilanda gelisah dan sedang mencari cara untuk menemukan Shinta. Datang seekor monyet putih, yang berjanji akan menemukan Shinta di taman Argasoka. Anoman namanya, ia bahkan berkelahi dengan buaya hijau dan menang. Ia masuk ke dalam negeri Alengka. Akhirnya Anoman menemukan Shinta dan memberikan cincin serta meminta wanita itu memakainya.
Jika cincin di jarinya bersinar terang maka Shinta masih suci dan Rama akan datang untuk menyelamatkannya. Benar saja, ternyata cincin di jemari wanita itu bersinar terang dan Anoman bahagia melihatnya. Shinta pun bahagia, penantiannya selama berpuluh purnama akan terbayar. Ia akan berjumpa dengan kekasihnya. Kisah ini ditutup dengan dibakarnya Anoman oleh raja Rahwana.”
“Ya Ampun, lalu bagaimana nasib Anoman, Bu?” tanya Mbok Jur nampak cemas.
“Jangan terlalu cemas, dia bukan suamimu, to?” Mbok Jur tersipu malu. Sedangkan aku terkekeh melihatnya digoda oleh Ibu. “Anoman berhasil menyelamatkan diri, bahkan Negeri Alengka telah rata oleh tanah karena terbakar.
Aku tersenyum mendengar cerita Ibu. Ikut bahagia mendengar bahwa Shinta dan Rama akan kembali bersatu, juga Anoman yang berhasil menyelamatkan diri.
“Jadi, Nduk ....” Ibu memegang tanganku yang ada di bahunya.
“Nggeh, Bu?”
“Ibu mau, kamu kayak Shinta, ya. Yang setia sama suamimu, jangan silau melihat pria lain yang lebih segalanya dari Bagus.”
“Ibu ... InshaAllah aku akan selalu menjaga hati buat suamiku. Mungkin banyak pria yang lebih segalanya dari Mas Bagus di luar sana, tapi tidak menjamin mereka lebih baik dari suamiku.”
Aku melingkarkan lengan ke leher Ibu. Sedikit merunduk untuk memeluknya.
“Pinter kamu, Nduk,” katanya seraya mencubit pipi, aku hanya tersenyum.
Meski pun aku kehilangan Ibu, tapi aku tak sepenuhnya kehilangan kasih sayangnya. Karena Ibu mertua telah memenuhi sebagian dari itu.
***
Aku meraba kening, merasakan apakah masih ada benjolan di sana akibat terbentur pintu waktu itu. Ah, sangat memalukan. Kenapa aku selalu bersikap sembrono kalau ada Mas Bagus di dekatku. Kutelisik kening ini di depan kaca rias. Alhamdulillah sudah mengempis.
Ingat malam itu setelah kejadian, ia mengompres kening ini dengan air hangat. Jarak kami sangat dekat, aku bahkan bisa merasakan hangat embusan napasnya. Aku berbaring, membayangkan jika saja saat itu aku pingsan, bisa saja dia memberikan napas buatan, kan?
Aku memejam dan membayangkan, lalu tersenyum sendiri.
“Halah! Sri, kamu mikir apo to? Ndue otak kok yo mesum, wae. Ndang tangi, Sri!! Tangi!!” Aku memukul kepala sendiri supaya terbangunn dari mimpi. Aku kesal dengan otak ini, kenapa selalu berpikir hal yang seperti itu. “Astaqfirullahalazim ... astagfirullahazim!!”
“Otak siapa yang mesum?” tanya seseorang tiba-tiba.
Aku menoleh ke belakang, kaget dengan kedatangan Mas Bagus, lalu berusaha untuk tersenyum.
“Anu, Mas ... aku nonton tv kok beritanya serem serem, ya.”
“Kamu suka nonton berita?” Aku mengangguk. “Bagus, buat nambah wawasan. Biar nggak kat ... “ Kalimatnya menggantung.
“Kat? Opo, Mas?”
“Maksudnya, biar nggak terlalu kalemlan. Jadi tahu dunia luar.”
“Oh ... iya, nanti tak usahakan sering nonton tv, Mas.”
Aku berdiri dan mengambil tasnya, baru akan berjongok untuk melepas sepatu dia melarang.
“Sri, aku bisa sendiri.”
“Mas, ra po po. Aku saja.”
“Wes, ndak usah. Kamu tolong buatin teh anget aja, ya.”
Aku mengangguk samar. “Ya udah kalau gitu.”
Sampai di bawah aku heran dengan sikap Mas Bagus. Biasanya dia tidak pernah melarangku untuk melepas sepatunya, lalu kenapa malam ini ia melarangku. Saat asik mengaduk teh di meja makan, aku mendengar suara bising dari kamar Mas Karyo. Meski pun ragu akhirnya aku mendekat ke sana.
Sesampainya di sana, sudah sangat berantakan. Vas bunga, dan baju berhamburan di mana-mana. Beruntung Ibu sudah terlelap, biasanya di jam seperti ini Ibu baru saja minum obat dan salah satu efek dari obat itu adalah mengantuk. Semoga Ibu tidak terbangun mendengar keributan ini, aku hanya takut masalah ini hanya akan menambah beban pikirannya.
“Aku bilang aku kasih kamu waktu tiga hari. Ini sudah berapa lama, lupa kamu?” tanya Mbak Anin dengan mata melotot menatap suaminya.
Kedua tangan berkacak di pinggang dan dengan ponggahnya menantang suaminya sendiri. Diujung sana aku melihat Flora memeluk lututnya erat sambil menyembunyikan wajah diantara lengan. Ia menahan isak tangis dan rautnya sangat ketakutan.
“Aku mana bisa melakukan semua itu, Mi.”
“Pokoknya aku mau cerai!!” Flora semakin kencang menangis, tapi orang tuanya tak perduli. Mereka malah sibuk bertengkar, tanpa memikirkan perasaan anaknya. “Denger kamu, Mas? Aku kecewa sama kamu! Pokoknya kita cerai!!”
Flora berlari memeluk pinggang ibunya. “Mami, Flora mau tinggal sama Mami dan Papi. Huhuhuhu nggak mau pisah-pisah.” tergugu anak itu menangis.
“Flora, Papi kamu ini nggak berguna. Kita tinggalkan rumah ini besok! Kamu ikut Mami, dengar?”
“Apa-apaan, dia anak aku, dia harus ikut aku!”
Mas Karyo memaksa Flora melepas tangannya di tubuh sang Ibu.
“Mau kamu kasih fasilitas apa dia kalau ikut kamu, Mas? Ngacaa!”
Mbak Anin menarik sebelah tangan anaknya, sementara gadis kecil itu tampak kesakitan.
Tanpa ba bi bu aku masuk dan merebut Flora dari mereka berdua. Anak itu kugendong dan segera kubawa ke kamar. Sampai di kamar aku mengunci pintunya, lalu segera kupangku Flora seraya duduk di sisi ranjang dan memeluknya guna menenangkan. Mas Bagus yang melihat itu heran.
"Tenang, ya. Kamu sama Tante sekarang," kataku sambil menghapus air matanya.
"Tante, Flora takut. Kenapa orang dewasa itu sering marah-marah?"
"Nggak semua, Sayang. Buktinya, Tante nggak. Mungkin Mami sama Papi kamu lagi mengalami masalah yang sulit. Kamu jangan takut, ya. Semua akan baik-baik saja."
Mas Bagus menutup laptopnya dan mendekat ke arah kami. Aku memberi aba-aba supaya dia diam saja. Pandangannya menatapku bingung, sementara terlihat jelas kalau ia penasaran. Beberapa kali Mas Bagus menaikkan dagu, bertanya. Aku masih diam, menegakkan jari telunjuk di depan bibir.
"Kamu berbaring di sini dulu ya, Sayang."
Aku menidurkan Flora ke kasur dan menyelimutinya.
"Om, Flora boleh bobok di sini?"
"Tentu saja Sayang. Kamu tidur yang nyenyak, ya."
Mas Bagus membelai lembut kepala anak itu. Setelah anak itu terlelap ia mengamit tanganku mengajak keluar kamar.
"Ada masalah apa?" tanyanya setelah kami berada di luar kamar dan menutup pintu.
"Mas Karyo sama Mbak Anin bertengkar hebat. Mereka bahkan membahas soal perceraian."
"Ah masak?"
"Bener, Mas."
Nampak tergesa Mbak Anin menaiki anak tangga disusul Mas Karyo di belakangnya.
"Mana Flora?" tanyanya langsung.
"Tidur, Mbak. Biarkan Flora sama aku dulu, Mbak. Kasihan dia. InshaAllah aku akan menjaganya sampai urusan kalian selesai."
"Sayang, aku sudah menyanggupi syaratmu. Sudahlah, jangan buat keributan," lanjut Mas Karyo.
Wanita cantik itu menoleh ke belakang, menatap tajam suaminya, lalu masuk ke kamar kami begitu saja. Ia menggendong Flora dan membawanya turun ke bawah. Mas Bagus mendekati abangnya. Berusaha menanyakan duduk persoalannya. Tapi Mas Karyo hanya bilang, ini bukan urusan kami berdua. Setelahnya ia menyusul Mbak Anin.
"Udah malem, tidur sana. Itu masalah rumah tangga mereka, jangan ikut campur," titahnya setelah tinggal kami berdua di sini.
Aku menurut, masuk kamar dan menutup pintunya. Pintu belum tertutup sempurna Mas Bagus berkata. "Kamu minta aku tidur di luar?" Aku menggeleng cepat. "Trus kenapa pintunya ditutup?"
"Aku pikir Mas belum mau masuk."
"Aku ngantuk, mau tidur juga."
"Oh." Kubuka lagi pintu lebar-lebar.
Kami naik ke kasur berbarengan dan saling memunggungi.
"Mas."
"Em."
"Sudah tidur?"
"Emang bisa orang tidur ngomong?"
"Eh, iya."
Aku tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Mas, aku mau kerja."
Hening. Terdengar helaan napas berat.
"Kenapa? Uang dariku ndak cukup?"
"Bukan."
"Lha, terus kenapa?"
Aku diam, terus berbalik, berbaring miring menghadap ke arahnya, menatap tubuhnya dari belakang. Bagaimana aku akan menjelaskan. Aku ingin kerja untuk mengganti uangnya yang ada di dalam dompet itu. Rasanya kurang pantas jika aku menggantinya pakai uang nafkah darinya.
Mas Bagus memberiku amplop berisi uang waktu itu, isinya entah berapa, aku belum sempat menghitungnya. Katanya, itu untuk memenuhi kebutuhanku. Aku belum memakainya sama sekali. Parfum yang kupakai dibelikan oleh Ibu saat beliau dan Mbok Jur bersama pak supir belanja di supermarket.
Sedangkan pakaian, sudah dibelikan Mas Bagus saat kami ke mall. Setiap kali melihat amplop itu, aku merasa jadi penjahat yang sudah menjambretnya, karena langsung ingat sama dompetnya.
"Bukan gitu, Mas."
Tanpa kuduga Mas Bagus ikut berbalik dan berbaring miring juga menghadap ke arahku yang membuat aku gugup seketika.
"Kalau gitu jelaskan." Ia menatap, aku pun sama.
Lama-kelamaan wajahku memanas, sepertinya grogi mulai datang. Aku mana tahan tatap-tatapan lama sama dia seperti ini. Akhirnya aku berbalik lagi menghadap ke dinding. Memunggunginya.
"Ndak apa-apa, Mas. Aku cuma ingin cari pengalaman, karena selama ini aku belum pernah kerja. Ingin juga merasakan susahnya cari uang."
Hening lagi. Aku pikir dia tidur, aku mulai memejamkan mata.
"Sri ... "
Suaranya kenapa terasa sangat dekat. Aku membuka mata dan ....
'Allahuakbar!'
Aku langsung melonjak kaget saat melihat Mas Bagus sudah duduk berjongkok di dekatku. Wajahnya berada tepat di depan mukaku. Jadi pengen bilang, Mas duduknya boleh mundur dikit nggak?
Gantengnya kelewatan. Ea ea ea ...
Baca bab selanjutnya di sini 👇
https://read.kbm.id/book/detail/c4910132-f7ed-f5eb-1089-8c4537c08981?af=713488e6-123d-89dd-2074-b33084da5733
Komentar
Posting Komentar