CERITA PENDEK TERSESAT! (Mencintai Milik Orang)
TERSESAT!
(Mencintai Milik Orang)
By. Denting Melody
_________________________
AKU BUKAN PENULIS
.
"Mm–Mas Angga?"
Prasetyo memandangi Danisa dengan sosok yang baru datang secara bergantian. Angga di ujung lorong terus mendekat.
Harapan Danisa, suaminya tidak melihat apa yang baru saja Prasetyo lakukan kepadanya.
"Kamu di sini, ternyata. Maaf ganggu kamu sama..., hei, Mas Prasetyo ya?" Tatapan Angga membulat sumringah saat mengetahui siapa orang yang sedang bersama isterinya.
Keduanya berjabat tangan khas laki-laki. Kaku dan sekedarnya. Senyum tipis tidak ada menariknya.
"Kalian, saling kenal?" Danisa menyembunyikan kegugupan. Sedikit penasaran bagaimana caranya kedua lelaki itu bisa saling tahu.
"Dia teman kamar kita, Nis. Kebetulan tadi pagi kita ketemu pas lagi ngopi di kafe hotel. Oh iya, sudah selesai belum acaranya? Rencananya, aku mau antar kamu ke kamar, sebelum pergi lagi."
"Mas mau pergi lagi?" tanya Danisa sedikit kecewa. Setelah tadi suaminya tidak ada saat ia berbicara di depan, sekarang akan kembali ditinggalkan.
Setidaknya, Danisa ingin mengabadikan gambar bersama Angga di atas panggung. Kemungkinan besar ia akan menyabet penghargaan malam ini.
"Acaranya masih, sih, Mas. Tapi gak apa-apa kalau Mas Angga sibuk. Nanti Nisa bisa naik taksi ke hotel."
"Taksii? Sendirian? Sejujurnya, aku agak khawatir." Angga terlihat menimbang. Memikirkan bagaimana caranya ia bisa pergi tapi sang Istri aman sampai kamar.
Bukannya apa, mereka tengah berada di luar kota domisili. Khawatir terjadi sesuatu, tidak ada orang yang kenal dan tahu.
"Biar nanti saya antar. Kita tetangga kamar, kan? Kebetulan saya bawa mobil sendiri." Prasetyo menawarkan diri.
Bak mendapat guyuran hujan selepas kemarau panjang, titik senyum di wajah Angga tertarik sumringah. Sedang Danisa sedikit khawatir.
Tentu khawatir. Berhubungan secara virtual saja ia takut tidak mampu menyembunyikan rasa nyamannya terhadap Prasetyo. Apalagi secara langsung seperti itu. Danisa semakin gugup, salah tingkah untuk bersikap. Takut semua yang hatinya sembunyikan ikut terendus oleh Angga.
Semua orang paham, menyembunyikan sesuatu yang salah itu tidak menenangkan.
"Saya akan sangat berterima kasih, Mas Pras."
Entah apa yang membuat Angga buru-buru menerima kebaikan orang asing seperti itu. Tanpa ada kekhawatiran sedikit pun, ia menitipkan Danisa kepada lelaki lain yang notabene baru dikenalnya.
Danisa merasa kesal digampangkan seperti itu. Bagaimana kalau sebenarnya dia dan Prasetyo tidak saling kenal?
Tidakkah lelaki itu berpikir soal hal buruk yang bisa saja terjadi kepada istrinya?
"Hai, mikir apa?" Prasetyo membuyarkan lamunan Danisa. Perempuan itu menggelengkan kepala, melempar senyum agar terlihat baik-baik saja.
Runtut acara berlangsung satu demi satu, di ujung acara, terdapat sesi pemberian penghargaan kepada para penulis dengan beberapa kriteria. Danisa masuk di dalamnya. Ia kembali naik ke podium untuk yang ke-dua kalinya.
Hal yang mencengangkan di atas sana adalah, Prasetyo ikut naik dan menyabet penghargaan pendatang baru paling populer.
Tanpa bicara, Danisa hanya menatap tanda pengenal yang mengalungi leher lelaki itu. Baru tersadar, mereka mengenakan warna kalung yang sama.
Sama-sama untuk penulis yang diundang.
***
"Kok diem?"
Mobil melaju pelan cenderung tersendat. Surabaya cukup padat. Apalagi langit tengah menurunkan titik-titik beningnya.
"Hei!" Tangan yang sebelumnya senantiasa menggenggam tuas persneling, dia coba menyentuh bahu perempuan di sebelahnya.
Danisa menggedikkan bahu. Menepis tangan yang baru nangkring di atas situ.
"Kamu marah, tau aku ada di atas podium juga?!" Prasetyo coba melirik ke sebelah tanpa kehilangan fokus mengendara. Lalu tersenyum geli menangkap gerak bibir Danisa tengah mencibir dengan mengulang ucapannya.
"Ngomong dong! Tau gak, kalau di telepon, pas kita diem-dieman, aku tuh gemes sendiri. Apalagi kalau cuma hembusan nafas kamu yang sampai di telinga."
"Ya udah, penghargaannya buat kamu gak apa-apa. Junior mah ngalah sama senior!" Prasetyo masih berusaha membuat perempuan yang duduk di sebelah kursi kemudi mengeluarkan suara. Kali ini tampaknya berhasil.
"Ish!" Danisa mendengus sebal. "Eh, denger ya Tio, gak ada ceritanya aku iri sama pencapaian kamu. Tapi bisa gak sih kamu tuh jujur soal kamu juga seorang penulis. Dengan begitu, aku gak perlu terlalu lepas saat membahas alur, plot, ide cerita ke kamu."
"Aku bukan penulis."
"Aku bukan penulis!" Lagi. Danisa mencibir. "Terus, nama Tyonis alias Prasetyo yang diumumkan orang-orang tadi itu siapa kalau bukan penulis? Hantu?!"
Prasetyo terkekeh geli. Ia baru sadar, wajah cemberut Danisa ternyata lebih menarik dari gambar-gambar tersenyum manis di beranda atau kiriman foto perempuan itu.
"Aku tuh bukan penulis. Ada pekerjaan lain di kehidupan nyataku. Dan nulis itu cuma selingan yang iseng!"
"Cih! Selingan yang iseng!" Danisa sebal mengetahui keisengan Prasetyo bisa sebagus itu.
"Iya, aku pikir, daripada cuma temenin kamu tanpa berbuat apa-apa setelah pekerjaanku selesai, tidak ada salahnya mencoba berimajinasi sepertimu."
"Dan ternyata?"
"Dan ternyata menggelikan! Ha ha ha."
"Penulis itu bukan pelawak, Tio!" Gemas Danisa. Bisa-bisanya dikatakan menggelikan.
"Iya, iya, aku paham. Tapi perspektif kita dalam hal ini memang berbeda, Nis. Dan tidak bisa ditepiskan.
“Kamu memilih menulis sebagai profesi, dan aku memilih kegiatan menulis sebagai sebuah iseng kan gak ada salahnya.
“Aku juga gak jelek-jelekin pekerjaan itu.
“Kamu bayangin aja, nih, mataku menghitam cuma buat dengerin kamu cuap-cuap sampai tengah malam. Masih lebih baik begadangku ada hasilnya kan?
“Dan soal plot, alur yang kamu bicarakan, gak mungkinlah, aku mau jiplak punya kamu."
Danisa terkekeh sendiri mendengarkan penjelasan panjang kali lebar teman virtualnya. Tapi soal plagiat, memang tidak bisa dipandang remeh di dunia literasi. Banyak pelakunya, sudah banyak juga korbannya.
Danisa senyum-senyum sendiri, menikmati alunan lagu Ruang Rindu Milik Letto yang mengalun lembut di pemutar musik mobil. Lebih ia nikmati sambil mengangguk-angguk dan menatap lelaki yang ada di samping.
Entah sudah berapa menit, ia yang sedari tadi hanya curi-curi pandang ke arah si pengemudi, kali ini memandang dengan lebih berani.
Abang Prasetyo.
Meskipun tidak sesempurna gambaran Prasetyo di dalam bayangannya, tapi Danisa akui, lelaki itu cukup tampan.
Salahnya juga membayangkan Prasetyo seperti oppa-oppa tampan di negeri ginseng atau matahari terbit. Karena Prasetyo tampan khas pribumi. Manis dan..., menggemaskan hati.
"Kita mau cari makan, jalan-jalan, atau langsung ke penginapan?" tanya lelaki yang masih mengenakan kalung peserta roadshow itu. Ia tersenyum mendapati Danisa termenung menatap ke arahnya. Sapuan lembutnya di kepala cukup membuat jiwa perempuan itu kembali ke raga.
"Ehmm..., langsung penginapan. Aku khawatir Mas Angga sudah ada di sana. Bisa saja dia sedang mengetesku."
"Mengetes?" Prasetyo tertarik.
"Hmmm, beberapa kali Mas Angga mergokin aku senyam-senyum gak jelas sendirian. Mungkin dipikir aku punya selingkuhan. Pedahal lagi bayangin yang lucu-lucu sama tokoh ceritaku. Fyuuh, yang gak tau dunia halu, mana tau yang begitu-begitu!"
"Iya deh, Ratu Halu! Jadi, kita masih mau lanjut ngobrol atau turun?"
Setelah berjibaku dengan kemacetan selama kurang lebih dua puluh menit, tuas rem tangan akhirnya ditarik juga. Prasetyo bisa mengistirahatkan kaki. Lumayan pegal kalau bawa mobil koopling di jalan padat merayap.
"Nis."
Gerakan hendak membuka pintu mobil dihentikan oleh panggilan lembut Prasetyo. Lelaki itu menatap Danisa sambil menghela nafas panjang beberapa kali. Sedangkan Danisa terus menanti.
"Aku seneng bisa ketemu sama kamu. Meskipun tidak merubah sedikit pun kenyataan tentang apa status kamu." Punggung tangan perempuan itu coba diraihnya. Mengalirkan perasaan yang jujur dari dalam hati Prasetyo.
Ia menjadi lemah hati. Niat untuk meninggalkan semua perasaan salah itu mendadak berputar arah. Ingin terus membiarkan keadaan tersebut meskipun tahu salah.
"Kamu, seneng gak ketemu aku?"
"Aku?" Danisa terdiam, berpikir sejenak, lanjut menatap manik Prasetyo yang juga tengah menantikan manik miliknya.
"Biasa aja!" lanjutnya terus membuka pintu dan turun dari mobil.
Prasetyo tersenyum gemas tak percaya. Sudut bibirnya ia gigit dengan tangan memukul pinggir piringan kemudi.
“Danisa Amanda, tunggu!” Prasetyo berlari-lari kecil, berusaha mensejajarkan langkah mereka.
Danisa terus melangkah, menyembunyikan hati menghangat juga pipi memerah miliknya.
Jika di telepon dan pesan terkirim ia bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya, tapi saat berhadapan secara langsung, rasanya sulit. Ia tipe orang yang cukup ekspresif untuk sesuatu hal yang hatinya rasakan.
Begitu menjajari perempuan itu, Prasetyo menyusupkan jemarinya di antara jemari lentik Danisa. Tatapannya tak terlepas dari sana saat mengetahui Danisa balas menggenggam tangannya dengan begitu erat.
Api di hati keduanya menyala dengan baik. Menghangatkan perasaan yang entah mendefinisikan sebagai hubungan apa.
Kedua rengkuhan tangan itu berayun lembut hingga keduanya tiba di depan kamar Danisa.
"Ini kamarku, Abang mau mampir dulu?" ajak Danisa. Meskipun sebenarnya hanya basa-basi. Ia tidak seberani itu menerima tamu di dalam kamar dalam kondisi hanya berduaan.
Angga, suaminya pun belum diketahui keberadaannya. Apakah sudah ada di dalam sana atau masih di luar. Danisa dan Angga sama-sama memegang kunci akses kamar. Jadi tidak masalah kalau mereka datang tidak bersama.
Prasetyo menatap Danisa penuh arti. Mengusap pipi lembutnya sekali lagi. Sejujurnya, ia ingin ikut masuk. Tapi di saat bersamaan ponselnya berdering.
Saking asyiknya masuk ke dunia Danisa selama satu harian ini, Prasetyo sampai lupa pada dunia miliknya sendiri. Seharian mengikuti acara yang sejujurnya cukup membosankan. Tapi demi menatap langsung Danisa dari kursi duduknya, ia terus bertahan.
"Lain kali, ya. Aku masih ada kerjaan," tolak Prasetyo. Kali ini ia harus adil pada profesi realnya. Sudah cukup bersenang-senangnya. Ada tanggung jawab lain menantinya.
"Iya, iya! Cieee, yang punya target juga! Pasti habis ini bukain surat pembaca. Pasti penggemarnya berjibun nungguin balasan."
Prasetyo hanya tersenyum menanggapi ledekan itu. "Istirahatlah. Kalau mandi, gunakan air hangat. Kalau butuh apa-apa, kabari saja."
Danisa hanya menjulurkan lidah. Sudah terbiasa pada perhatian kecil yang biasa lelaki itu lemparkan.
Sebelum menutup pintu, satu kali lagi, Prasetyo mendaratkan kecupan di tempat yang paling dia inginkan. “Tidur nyenyak. Tidak usah memikirkan target dulu. Tidak mengetik satu hari tidak membuat dollarmu terkuras habis.”
Danisa tersenyum sambil mengangguk. Menjadikan wajah cantik itu bayangan terakhir yang bisa Prasetyo bawa masuk ke dalam mimpinya nanti.
Prasetyo lanjut melangkah menuju kamarnya sendiri, tepat di sebelah kamar Danisa. Sesekali tersenyum memandang dinding penghalang. Tak pernah membayangkan mereka akan tidur bersama dalam jarak sedekat ini.
Bersambung.
Tamat di aplikasi hanya 20 Bab.
Tersesat! (Mencintai Istri Orang) - Denting Melody
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/6903dfbe-f1f1-4de2-916c-89ca7661d9e4?af=a6c655c3-3451-4f83-8908-b580e8be7c92
Fb. Denting Melody gambar poster JCW sama PMY
Komentar
Posting Komentar