cerpen
SI BUAYA DARAT #2
Part sebelumnya :
"Woi, Ngapain kalian disini?"
Aku terkejut melihat Enyak dan Babeh berdiri di depan pintu.
"Eh anu... Kita... Kita lagi nyari kecoa tadi lari kesini."
"Iya kan Beh," Enyak menyenggol lengan Babeh dan Babeh-pun mengiyakan.
Aku mengernyitkan kening, Enyak dan Babeh sangat mencurigakan.
Aku berjalan tertatih melewati mereka.
Tak berselang lama Enyak berbisik.
"Si Tuti mainnya ganas ya Raf?"
Sontak saja aku langsung menoleh ke belakang.
"Main apaan Nyak? Rafi itu abis jatoh tau nggak, Duhh pinggang Rafi sakit Nyak!"
"Tuh kan sakit pinggang, kaya Babeh Lu waktu muda."
Babeh melotot ke arah Enyak.
"Loh kok jadi buka kartu di depan si Rafi sih Nyak?"
"Lah emang iya pan? Waktu awal-awal Babeh emang begitu,"
"Sekarang sih boro-boro, belom apa-apa udah meletoyy!"
Aku mendelik ke arah mereka merasa geli, kulihat wajah Babeh memerah seperti menahan kentut, eh salah. Marah!
Aku berjalan ke arah dapur, meninggalkan mereka. Sesampai disana aku menghempaskan tubuhku di kusir dapur.
Ah pinggangku sakit sekali.
Aku bingung harus bagaimana? Jika kembali ke kamar, Astuti pasti akan menyerangku kembali.
Aku bergidik membayangkan betapa bringasnya Astuti di atas ranjang.
Aku menelungkup di atas meja, entah mengapa mata ini sangat mengantuk. Aku terlelap dengan mulut menganga lebar.
Baru saja masuk ke alam mimpi, aku di kejutan dengan suara sosok yang memanggilku.
"Abaang... Bang Rafi. Kok lama banget sih Bang," teriak Astuti dari dalam kamar.
Aku langsung membuka mata. Kemudian mencari cara agar Astuti tidak memperkos4 belutku malam ini.
Aku mengelap iler yang sudah menganak sungai di pipi. Kemudian bangun dari kursi. Dengan tertatih aku berjalan ke kamar kembali, namun sebelum itu aku mengambil minyak urut, lalu mengoleskannya terlebih dahulu.
Baru mau masuk ke dalam kamar, aku malah dikejutkan dengan kehadiran Astuti di depan pintu.
"Tu-tut... Tut.. Kok belom tidur?"
"Tuti kan nungguin abang, kok lama banget sih Bang."
"Sorry Tut, abang tadi ketiduran."
"Yaudah ah, ayo bang." Tuti menarik tanganku agar mengikutinya.
Kaki dan tubuhku langsung bergetar saat kami sudah memasuki kamar.
Astuti berjalan mendahuluiku, dia naik ke atas ranjang. Menggeliat bak cacing kepanasan.
"Abang... Bang Rafi! Bang..." panggilnya dengan suara yang mendayu-dayu.
Bukannya membuat ular cobra-ku tegang, aku malah mendadak ingin buang air besar.
Suara Astuti macam orang kebelet Eek.
"Bang, ayo sini bang duduk,"
"A-anu Tut, a-abang gak bisa Tut."
Wajah Astuti langsung berubah kecewa, dia menatapku dengan wajah sangar.
"Pi-pinggang abang sakit Tut. Ini baru abis dari kamar Enyak minta di urut."
"Oh gitu, yaudah deh bang."
"Makasih ya T-tut." ucapku tergagap.
"Tuti bang, Tuti. Bukan tutut."
Aku menghembuskan napas perlahan.
Syukurlah, untuk malam ini aku selamat.
Astuti merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian memejamkan mata. saat tak ada pergerakan, baru lah aku naik ke atas ranjang. Aku tidur membelakangi Astuti.
Rasa kantuk mulai menyapa, aku pun mulai memejamkan mata. Namun tak berselang lama tiba-tiba....
Groookkkk! Grokokok!
Sontak mataku langsung terbuka lebar, aku menoleh ke belakang.
Rupanya Astuti sedang mengorok, berisik sekali.
Aku menutupi telingaku menggunakan telapak tangan. Dan mencoba berusaha untuk tidur.
"Dasar kau penjah4t!" Astuti berteriak.
Aku terkejut kembali. Aku menoleh ke arahnya, rupanya Astuti mengigau.
Mataku membola saat Astuti mengayunkan tangannya ke udara lalu...
BUGH!
Ngekk
"Aduh! Gigi gue copot!" pukulannya mengenai wajahku.
Ah Si4lan si Astuti brutal bener kaya preman pasar.
***
Keesokan hari, aku bertemu kembali dengan sohibku si Tomi.
Aku menekuk wajah karena merasa kesal dengan kejadian semalam.
"Cie pengantin baru, gimana? Malam pertamanya, sukses sama si Astuti?"
"Lu kaga liat muka gue lebam gara-gara si Astuti."
Tomi mengulurkan tangan menyentuh wajahku, kemudian memperhatikan luka lebam di pipi sebelah kiri.
"Buset si Astuti mainnya kasar bener!"
"Alah! Main apaan lu!" Aku langsung menepis kasar tangan Tomi.
Saat sedang mengobrol, aku tak sengaja melihat Anita berjalan bersama seorang pria, mataku membola. Dengan melihatnya saja, rasanya kentut-ku langsung mendidih.
Tanganku terkepal, rahangku mengeras.
Aku bergegas berjalan menghampirinya.
"Nit, Nita!" teriakku. Aku mencekal pergelangan tangan Anita.
"Apaan sih Bang Rafi." Anita menatapku tak suka.
"Kamu pacaran sama si Juned!"
"Iya bang, kenapa? Lagipula hubungan kita kan udah selesai."
"Nggak, nggak! Nggak bisa begitu Nit," Aku menggeleng kuat.
"Duh lepasin bang, Nita mau jalan sama bang Juned!"
"Nit, maafin abang Nit, abang nikah sama Astuti itu terpaksa Nit, di paksa Enyak sama Babeh!" lirihku memelas.
Anita tak menghiraukan ucapanku. Dia malah berjalan cepat menghindariku.
"Anitaaaaa! Abang masih cinta sama lu Nit!" teriakku.
Ekhm!
"Abang..." Suara seseorang memanggilku dari belakang. Aku segera menoleh karena tak asing dengan suaranya.
Mataku langsung membola.
Ah! Ternyata disana ada Astuti, istri yang baru kunikahi kemarin.
Dia tengah...
Meng4sah gol0k!
"Eh ka-kamu T-tut."
"Abang Tuti mau masak sop daging, tapi gak ada, enaknya di ganti daging apa ya bang?"
ANJ1R
Seketika mataku membulat sempurna.
GEDEBUK!
Aku pingsan, sambil kejet-jejet kaya orang ayan.
https://www.facebook.com/100093682844066/posts/211980345268059/?app=fbl
Komentar
Posting Komentar