MENANTU SULTAN
MENANTU SULTAN
Penulis : Seruni Baskoro
Part-2
Sartika tak berani melepas kedua tangannya dari tepian perahu, meski hanya untuk mengusap kepala bagian depannya yang dipukul memakai centong besar pengayuh perahu oleh Kang Min lelaki paruh baya yang juga bekerja pada keluarga Haryo Kusumo itu. Karena jika Sartika mengusap kepalanya, maka dia akan melepas pegangannya dari tepian perahu itu yang tentu membuatnya tak seimbang.
"Phak... Phak... Phak...!"
Kembali Kang Min menepuk permukaan air, lalu setelah itu dia melompat dari perahu dan berenang ke tepian meninggalkan Sartika sendiri dalam perahu itu.
Sartika yang memejamkan mata tak tau jiika Kang Min sudah melompat dari perahu, yang dia tau perahu goyah saat lelaki itu melompat hingga dia kian erat berpegangan pada sisi kanan kiri perahu sambil terus saja mengucap takbir.
Riak air permukaan danau tiba-tiba bergolak bagaikan ombak yang membuat Sartika akhirnya membuka mata dan seketika dia syok karena tak melihat Kang Min di atas perahu kecil itu lagi. Sartika kian panik saat melihat permukaan air danau seolah berputar seperti pusaran air yang ingin menelan perahu kecilnya itu.
"Allahuabar.. Allahuakbar... Allahuakbar..!" teriak Sartika tak henti kala perahunya kian tak seimbang dan akhirnya terbalik di tengah pusaran air itu.
"Haa ... tolong ... tolong..!" teriak Sartika sambil menggapai dan berusaha berenang meskipun tak bisa berenang apalagi dia memakai kain batik tapih yang membuat pergerakan kakinya terhalang.
"Aalahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar..!" batin Sartika sambil terus berusaha menyelamatkan diri.
Tapi usahanya sia-sia, saat dia berusaha berenang justru Sartika merasakan kedua kakinya seperti ada yang menarik keras dari dalam air hingga membuatnya tertarik ke dasar danau tanpa bisa menyelamatkan diri.
****
Sementara itu di belik khauripan yang berada di seberang danau, tampak dua belas orang sedang berdiri di tepian danau menatap pada gumpalan awan hitam di tengah danau itu yang terlihat jelas karena terangnya cahaya bulan purnama.
Bahkan Dirga suami Sartika yang tadi mendengar teriakan istrinya itu hanya berdiri bersedakep dengan raut tanpa ekspresi menatap ke arah tengah danau.
"Ayo segera dimulaui ritualnya!" ajak lelaki tua dengan setelan baju beskap dan blangkon di kepalanya itu mengajak seluruh keluarga menuju belik khauripan.
Seluruh keluarga pun berbalik arah tak lagi peduli pada gumpalan hitam di tengah danau itu lalu mereka berbaris dengan rapi menuju tangga kecil di tepian danau yang mengarah ke belik khauripan.
Satu per satu keluarga besar yang berjumlah dua belas orang, terdiri dari Haryo Kusumo orang yang dituakan dalam keluarga, yaitu Kakeknya Dirga suami Sartika, Broto Haryo Kusumo atau Bapaknya Dirga sebagai anak tertua bersama Hanum sang istri masih tinggal di rumah utama bersama Haryo Kusumo.
Broto Haryo Kusumo punya dua adik yaitu Nimas Retno Haryo Kusumo dan Pamungkas Haryo kusumo.
Broto Haryo Kusumo punya dua anak yaitu Dirga Haryo Kusumo dan Damar Haryo Kusumo. Dirga menikahi Sartika dua bulan lalu, sedangkan Damar belum menikah karena masih kuliah semester tiga.
Sedangkan Nimas Retno Haryo kusumo bersuamikan Bagoes Durma juga punya dua anak bernama Arya Haryo Kusumo yang juga belum menikah, karena masih kuliah, dan Andini Haryo Kusumo yang masih kelas dua SMA.
Yang terakhir adalah Pamungkas Haryo Kusumo, anak bungsu Haryo Kusumo itu meskipun usianya sudah empat puluh tahun, tapi dia belum juga menikah dan masih menikmati masa lajangnya. Setiap kali dijodohkan oleh keluarga, dia selalu menolak dengan tegas, bahkan dia mengancam akan keluar dari keluarga jika dipaksa menikah dengan perempuan pilihan keluarga.
Dua orang lainnya adalah Sulastri dan Prapto. Sulastri dan Prapto adalah orang kepercayaan Haryo Kusumo dan bekerja pada keluarga itu sudah puluhan tahun, bahkan mereka masing-masing diberi satu rumah pribadi yang bagus oleh Haryo Kusumo karena sudah puluhan tahun mengabdi padanya dan tak sekali pun ingin berkhianat.
Dengan dipimpin Haryo Kusumo yang membawa kuali kecil berisi kembang setamanan dan juga dupa, satu per satu anggota keluarga masuk ke dalam belik keramat itu.
Namun tak semua masuk ke dalam belik keramat itu, Sulastri dan Prapto hanya duduk di tepian belik menunggu sesaji. Sulastri duduk bersimpuh, sedangkan Prapto duduk bersila. Keduanya dalam posisi menyembah dan memejamkan mata.
Mereka mengikuti ritual itu sudah berpuluh kali, yaitu setahun sekali tepatnya saat bulan suro dan pas bulan purnama. Meskipun mereka dalam kondisi tak sehat, mereka tetap diwajibkan ikut ritual ke tempat itu.
Sekitar dua jam mereka berandam dalam air jernih nan dingin yang langsung diterpa sinar bulan purnama itu. Tentu saja air itu terasa dingin dan membuat menggigil, tapi karena itu ritual sakral yang harus dilakukan keluarga, mereka tetap berusaha bertahan hingga selesai ritual.
Sebenarnya ritual itu tak hanya dilakukan oleh Trah keluarga Haryo Kusumo tapi masih ada dua Trah keluarga lagi yang juga melakukan hal seperti itu. Tapi biasanya jadwalnya ditentukan antara tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas tanggalan jawa, bukan tanggalan masehi.
Sebab bulan purnama memang bertepatan tanggal lima belas tanggalan jawa, tapi tanggal tiga belas dan empat balas pun sudah termasuk bulan purnama, meskipun sempurnanya adalah di tanggal lima belas.
Setelah dua jam lebih melakukan ritual, semua keluarga pun mentas, atau naik ke permukaan air dimulai dari Haryo Kusumo sebagai sesepuh dan diikuti dengan anak cucunya.
Selesai ritual, mereka duduk bersimpuh di tempat terbuka pinggiran belik, tempat di mana Sulastri dan Prapto duduk menunggui tampah sesaji yang berisi satu tumpeng besar dan satu ekor ayam panggang tanpa lauk lain, dan ayam panggang kali itu bukan ayam jago melainkan ayam betina.
Haryo Kusumo membakar dupa dan membaca mantra yang diaminkan oleh semua anak cucunya sebelum akhirnya dia memotong nasi tumpeng, lalu membagi sepuluh bagian dan menaruh di atas daun pisang tepat di hadapan anak cucunya dengan pujuk tumpeng adalah bagiannya.
Setelah membagi rata nasi pada anak cucunya, dia pun meraih ayam ingkung atau ayam panggang dan juga membelah-belah bagian ayam itu untuk diberikan pada anak cucunya, sebagai lauk makan nasi, sedangkan bagiannya adalah kepala hingga leher ayam ingkung itu.
"Makan dan habiskan! Ini adalah pungkasan ritual bulan suro untuk Trah keluarga kita!" perintah Haryo Kusumo, lalu mereka semua pun memakan nasi berlauk ayam pangang bagian masing-masing hingga habis.
MENANTU SULTAN - Seruni Baskoro
Seorang menantu tiba-tiba menghilang secara misterius setelah diduga tenggelam dalam sebuah insiden ...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/ecde37c3-7db7-482a-ad94-49a52864ee85
Komentar
Posting Komentar