TANPA JEJAK (4)

 TANPA JEJAK (4)

Penulis: Rosni Jayanti

Paimin masih berdiri mematung. Pandangan matanya terkunci pada sosok Minah yang juga tengah menatapnya dengan pandangan sama. Rokok yang dijepit di sela jari tangan kirinya bahkan terlepas dan jatuh ke lantai, menandakan bagaimana pria itu kehilangan daya untuk beberapa saat.

"Minah?" Tanpa sadar, pria itu menyebut nama wanita yang pernah menjadi teman tidurnya.

"M-Mas Paimin." Bibir Minah bergetar saat menyebut nama itu.

"Mbak kenal suamiku?" Desi yang kebingungan mencoba menerka-nerka ada apa di antara suaminya dan wanita yang baru saja ia persilakan masuk ke rumahnya.

Paimin yang telah mendapatkan kembali kesadarannya, merunduk untuk memungut rokoknya lalu melangkah dan duduk di sisi Desi. Ia merangkul pundak istrinya, memberikan senyuman sembari berdoa agar senyumnya tak terlihat kaku.

"Kenal," jawab Paimin. "Minah ini penjual warteg di dekat kos-kosan Mas waktu di rantau tempo hari. Kamu sendiri kenal juga dengan Minah?" Paimin berusaha keras mempertahankan ekspresi wajahnya agar tak terlihat gugup.

Sementara Minah sendiri berusaha keras menahan rindu dan amarah pada pria yang dengan tega meninggalkannya. Perut buncitnya yang berkali-kali dilirik Paimin, seakan tak berhasil membuat pria di depannya merasa bersalah.

Seharian Minah menempuh perjalanan, menyusul pria yang berbulan-bulan melupakannya. Bermodal informasi dari mandor tempat Paimin bekerja dulu, wanita itu nekad mengejar cintanya untuk meminta pertanggungjawaban.

Nyatanya, saat pintu rumah Paimin dibuka, justru Desi yang membukakan. Wanita yang merupakan anak tetangganya di kampung itu, ternyata istri dari pria yang ia harapkan untuk menikahinya.

"Desi ini masih sepupu jauhku, sebelahan rumahnya dengan Ibu di kampung." Minah menjawab pertanyaan Paimin dengan nada dingin. "Aku tahu di sini rumah Desi, makanya sengaja ke sini mau numpang menginap."

Minah sengaja berbohong, menyembunyikan niat sebenarnya. Ia masih punya hati, tak mampu kalau harus menghancurkan rumah tangga orang lain. Apalagi ia kenal baik dengan Desi, wanita berumur 10 tahun lebih muda darinya yang waktu kecil dulu sering ia asuh.

Sementara di sisi lain, Paimin pun mati-matian menyembunyikan keterkejutan lainnya setelah mendengar bahwa Minah ternyata kenal dengan Desi. Padahal ia masih berusaha menata degup jantung karena kehadiran Minah yang tiba-tiba, sudah ditambah oleh kenyataan lain yang menambah perasannya tak karuan.

"Dik Minah ini memangnya ada keperluan apa datang ke kampung ini? Sedang ada yang dicari?" Kali ini Sumi ikut berbicara.

"Iya, Bu. Aku sedang mencari seseorang, tepatnya ayah dari anak yang aku kandung. Sejak tahu aku hamil, dia pergi dan enggak balik-balik." Minah mengusap perutnya. "Aku dikasih tahu temannya, katanya dia ada di kampung ini. Tapi sudah ke sana-kemari, enggak ketemu juga. Makanya mampir ke rumah Desi ini, mau numpang istirahat dulu."

"Aku baru tahu kalau Mbak Minah udah nikah lagi." Desi menanggapi. "Tega banget suami barumu, Mbak. Lagi hamil malah ditinggal." Wanita itu menggeleng berulang kali.

Minah tak memperbaiki kalimat Desi. Ia biarkan saja wanita itu mengira kalau dirinya sudah menikah lagi. Besok suatu saat, kebenaran akan diungkapnya. Bukan hari ini, pelan-pelan saja.

"Laki-laki zaman sekarang banyak yang enggak tahu diri. Lagi pula, apa bisa disebut lelaki kalau kelakuannya begitu? Lebih cocok disebut pengecut!" Sumi geram sendiri. Sementara di sisi lain, Paimin merasa tertampar dengan kata-kata ibunya. "Ya udah, Dik Minah tinggal saja di sini selagi suaminya belum ketemu. Lagian kampung ini enggak seberapa luas, pasti ketemu kalau memang yang dicari ada di sini."

Sumi bangkit setelah menyuruh Desi membuatkan teh hangat untuk Minah. Dirinya sendiri berjalan menuju sebuah kamar yang biasanya hanya terisi saat ada kunjungan keluarga. Dengan cekatan, Sumi menyingkirkan barang-barang di atas kasur dan memasang seprei.

Di ruang tamu, Paimin yang berdua saja dengan Minah merasa tubuhnya kaku. Ia tak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa. Bukan, bukan untuk meladeni Minah. Lebih tepatnya untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Apa kabarmu, Mas?" Minah bertanya sembari menatap pria yang dicintainya dengan tatapan sendu.

"Ba-baik. A-aku baik." Baru ditanya kabar saja, Paimin sudah gelagapan.

"Kenapa kamu tega meninggalkan aku, Mas? Benar-benar aku enggak habis pikir, kamu malah pergi setelah tahu aku hamil." Bibir Minah kembali bergetar saat mengatakan kata demi kata.

"Ma-maafkan aku, Minah. Aku punya keluarga yang enggak bisa ditinggalkan."

Tepat setelah Paimin berucap, suara tangisan bayi terdengar. Paimin segera bangkit meninggalkan Minah, hal yang sejak tadi ingin dilakukannya.

Pria itu masuk ke kamar dan meraih tubuh kecil Alif. Digendongnya bayi itu dengan hati-hati, lalu dibawa menuju Desi yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa segelas teh hangat dengan baki kecil.

"Alif haus." Paimin spontan mengatakan hal itu saat melihat istrinya.

"Sini, aku susui Alif. Mas bantu antar tehnya untuk Mbak Minah, ya."

Paimin bergeming dengan baki di tangannya, saat Desi masuk ke kamar untuk menyusui Alif. Pria itu berusaha meredam gemuruh perang di dalam kepala dan dadanya. Untungnya, Sumi keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju ruang tamu. Paimin pun melangkah, mengejar sang ibu.

Di setiap langkah kaki yang membawanya makin dekat dengan Minah, Paimin terus berharap bahwa apa yang terjadi adalah mimpi. Sebab ini semua terlalu buruk untuk menjadi nyata. Ia benar-benar tak siap.

Bersambung

Di KBM sudah bab 11 yaa
Akun: rosnijaya

https://read.kbm.id/book/detail/2ed385c1-68db-4f96-9c69-59cdf4722c35

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 GOLONGAN YANG DIRINDUKAN SYURGA

Tiga janji kita kepada Allah ketika shalat

BIOGRAFI RINGKAS GUS BAHRU LIRBOYO