TAULADAN DIAKHIR RAMADHAN (Idul Fitri)

TAULADAN DIAKHIR RAMADHAN
(Idul Fitri)
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبرالله اكبر الله اكبر
ولله الحمد
وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ،
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال محمد
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang mana pada pagi hari ini, kita semua masih diberikan kesempatan untuk dapat hadir ditempat ini dengan riang gembira.
Taklupa solawat dan salam marilah kita haturkan kepada junjungan kita yaitu nabi besar Muhammad...salallahu alaihiwas salam, beserta keluarganya kerabatnya ,sahabatnya dan semoga pada hari pemberian SYAFA'AT nanti, kita semua yang hadir disini
Akan di berikan SYAFA'AT oleh beliau Aamiin Allah humma Aamiin .
Allah huakbar
Allah huakbar
Allah huakbar walilla hilham.
Dipagi hari ini tiada lantunan kata kata yang diulang ulang ,berpaut pautan suara takbir tahmid tahlil berkumandang diseantero dunia, hari kemenangan, hari pemberian hadiah berupa taqwa dan hari yang ditunggu tunggu oleh se luruh ummat Islam hari yang penuh kebahagiaan"an.
Namun pada hari ini juga masih banyak saudara saudari kita yang tidak memiliki makanan, tidak memiliki minuman bahkan tidak memiliki pakayan yang layak untuk dipakai,
Mereka adalah saudara kita seiman,
Tuhan mereka adalah Allah,nabi mereka adalah Muhammad rasulullah Salallahu alaihiwas salam, agama mereka Islam,
Mereka menjaga dirinya dari meminta minta walaupun mereka tidur dalam keadaan lapar.
Telah
Dikisahkan dalam sebuah riwayat , usai salat Asar, setelah seharian merasa sedih, karena bulan Ramadhan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang dari masjid.
Sesampainya di rumah, ia disambut sang istri tercinta Fathimah Az-Zahra dengan pertanyaan penuh perhatian. “Kenapa engkau terlihat pucat, kekasihku,” demikianlah sapa Sayyidah Fatimah. “Tak ada tanda-tanda keceriaan sedikitpun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?”
Ali Ra hanya terdiam lesu, tak berapa lama kemudian ia minta pertimbangan sang istri untuk menyedekahkan semua simpanan pangannya kepada fakir miskin. “Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadhan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi.”
Sore itu juga, beberapa jam sebelum takbir berkumandang, Ali ibn Abi Thalib as terlihat sibuk mendorong pedatinya, yang terdiri dari tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Ia berkeliling dari pojok kota dan perkempungan untuk membagi-bagikan gandum dan kurma itu kepada fakir miskin dan yatim/piatu.
Sementara istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, sambil menuntun dua putranya Hasan dan Husein (cucu Nabi), nampak di tangannya memegang kantong plastik yang besar. Mereka sekeluarga, kompak mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni. Begitu mereka berjalan sampai larut malam, tangannya membagikan santunan, bibirnya bertakbir kepada Allah.
Esok harinya tiba shalat Idul Fitri, Sayyidina Ali naik mimbar dan berkhutbah di Masjid Qiblatain, potongan isi khutbah itu di antaranya tentang beberapa tanda-tanda orang yang mendapatkan “taqwa” dari puasanya yang sebulan penuh, “Yaitu mereka yang peka hati nuraninya, sehingga menggerakkan tangannya untuk peduli kepada sesama, berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman yang hangat, sebab kita semua sudah merasakan, bahwa lapar dan dahaga itu sesuatu yang berat”.
Begitulah Sayyidina Ali, beliau tak akan pernah mengucapkan, sebelum ia sendiri sudah melakukan dan memberi keteladanan. Setelah Shalat ‘Ied selesai dan hari masih sangat pagi, sahabat beliau, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga Rasulullah SAW tersebut.
Saat pintu terbuka, alangkah kagetnya mereka berdua, kedua hidung dua karib ini mencium aroma tak sedap, dari nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan disantapnya makanan yang tak layak konsumsi itu dengan lahapnya. Seketika itu Ibnu Rafi’i dan dan Al Aswad Ad-Du’ali berucap istighfar, sambil berpelukan dan menangis, karena kedua dada sahabat ini ada yang nyeri di sana.
Merasa tak kuat melihat pemandangan itu, mereka kemudian berpamitan sebelum berpelukan. Mereka pun pergi menjauh dari pemandangan menggetarkan itu. Di sepanjang jalan mata Ibnu Rafi’i berlinang air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya dan jatuh ke tanah seperti mengukir sebuah jejak kesedihan sampai ke kediamannya.
Idul Fitri yang seharusnya penuh suka cita, tapi pagi itu mereka bersedih. Sementara Abu Al Aswad Ad Du’ali, terus bertakbir di sepanjang jalan, kecamuk dalam dadanya sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah SAW. Tiba di depan Rasulullah, ia pun mengadu, “Ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ad Du’ali terbata-bata. “Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” kata Rasulullah menenangkan
“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, Ya Rasulullah. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.” “Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?” “Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik menengoknya…”
Tak berpikir lama, Rasulullah pun segera menuju rumah putrinya. Tiba sampai di halaman rumah, tak ada apa-apa yang dikhawatirkan oleh Ad Du’ali. Justru tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya.
Bahkan, yang sedikit aneh, mata Ad-Du’ali sendiri menyaksikan, ternyata keluarga itu masih menyimpan sedikit kurma yang layak dikonsumsi untuk menyambut tamu yang datang. Mata Rasulullah pun sembab, beliau terharu, sebab ia sendiri melihat bekas-bekas makanan basi yang sudah disantap keluarga itu dan bau basinya masih menyengat. Tak terbendung juga butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah SAW nan bersih.
“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah,” demikian bibir Rasulullah berbisik lembut.
Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, ayahnya sedang berdiri tegak. Gandum basi yang dipegangnya terjatuh ke lantai. “Abah, kenapa engkau biarkan dirimu berdiri di situ, tanpa memberi tahu kami, oh, relakah abah menjadikan kami anak yang tak berbakti?” Berondong Fathimah spontan, lalu mencium tangan Abahnya dan abahnya ke ruang tamu.
“Kenapa Abah menangis? Kenapa pula sahabat ad-Duali mengikuti di belakang Abah,” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Semoga kelak surga tempatmu Nak. Surga untukmu.” Mereka yang ada di situ lalu menjawab bersama-sama, “Allahuma Aaamin”.
Air mata Rasulullah tiba-tiba mengucur deras, saat melihat sendiri dengan matanya akan kesederhanaan dan kebersahajaan puteri beliau bersama keluarganya.
Di hari Idul Fitri, di saat semua orang berkumpul, berbahagia dengan hidangan aneka macam kuliner, keluarga Rasulullah cukup tersenyum bahagia dengan gandum dan sepotong roti basi yang baunya tercium tak sedap. Demikianlah kesaksikan ad-Duali dan Ibnu Rafi’i atas keluarga Rasulullah SAW pada hari ‘Idul Fitri.
Ibnu Rafi’i berkata, “Itulah salah satu dampak pendidikan Ramadhan bagi keluarga Nabi, dan aku diperintahkan oleh Rasulullah SAW agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, setelah Rasulullah wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadis, maka terpaksa aku ceritakan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin untuk benar-benar bisa mengambil hikmah dari madrasah Ramadhan.”
(Musnad Imam Ahmad, jilid 2
Allah hu Akbar
Allahhu Akbar
Allahhu Akbar
Walilla hilham
Bapak ibu saudara saudari adek adek jama'ah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah, sudah sepantasnya apa yang kita rasakan hari ini, dirasakan juga oleh saudara saudari yang tidak punya makanan, tidak mempunyai pakayan yang layak untuk dipakai, anak anak mereka berada dalam kesedihan yang mengiris hati,orang tuanya tidak mampu membelikan baju baru walau satu setel,walau harga yang sangat murah, sementara teman teman bermainnya memiliki pakayan baru dua atau tiga setel,boleh jadi anak anak mereka dibuli oleh teman temannya
Diolok olok oleh temannya, sehingga hilanglah suka ria yang seharusnya mereka dapati dihari raya Idul Fitri ini.
Allahhu Akbar
Allahhu Akbar
Allahhu Akbar
Walilla hilham,
Rosululllah Salallahu alaihiwas salam bersabda:
Barang siapa yang memberi makan kepada seorang mukmin hingga membuatnya kenyang dari rasa lapar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain.
(HR Thabrani)
Dalam hadits yang lain dikatakan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan. (HR. Ahmad dan Hakim; shahih)
Hadirin jama'ah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Sebuah hikmah RAMADHON yang baru saja selesai kita jalani adalah peduli pada mereka yang lapar, peduli kepada mereka yang tidak memiliki pakayan yang layak,inilah salah satu buah Ramadhan yang bisa kita raih ditahun ini,disamping taqwa yang dijanjikan Allah.
Untuk itu marilah sedikit prihatin kepada saudara saudari kita yang tidak mampu agar anak anak mereka tidak
diolok olok oleh temannya, sehingga hilanglah suka ria yang seharusnya mereka dapati dihari raya Idul Fitri ini.
Allahhu Akbar
Allahhu Akbar
Allahhu Akbar
Walilla hilham,
Rosululllah Salallahu alaihiwas salam bersabda:
Barang siapa yang memberi makan kepada seorang mukmin hingga membuatnya kenyang dari rasa lapar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain.
(HR Thabrani)
Dalam hadits yang lain dikatakan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan. (HR. Ahmad dan Hakim; shahih)
Hadirin jama'ah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Sebuah hikmah RAMADHON yang baru saja selesai kita jalani adalah peduli pada mereka yang lapar, peduli kepada mereka yang tidak memiliki pakayan yang layak,inilah salah satu buah Ramadhan yang bisa kita raih ditahun ini,disamping taqwa yang dijanjikan Allah.
Allah berfirman dalam Al Qur'an
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya
(QS Ali Imron 92)
Demikianlah Apa apa yang telah kita dengarkan bersama, semoga bisa memotivasi kita untuk ikut ambil bagian dalam memberi makan orang yang lapar
Aamiin Allahhumma Aamiin.
اَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ, اِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
(Duduk antara dua khutbah)
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر
ولله الحمد
اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ.
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 GOLONGAN YANG DIRINDUKAN SYURGA

Tiga janji kita kepada Allah ketika shalat

BIOGRAFI RINGKAS GUS BAHRU LIRBOYO